4 Cara Mengatasi "Brain Rot" di Tengah Gempuran Digital

Ilustrasi brain rot/sumber: freepik.com

Istilah brain rot atau pembusukan otak kini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial salah satunya TikTok. Brain rot sendiri didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat konsumsi berlebihan konten dunia maya.

Banyak orang merasa fenomena tersebut relevan dengan gaya hidup masa kini yang didominasi media sosial dan konsumsi konten digital yang cepat, singkat, serta tidak bermutu.

Sebenarnya, istilah brain rot pertama kali ditemukan pada 1854 dalam buku berjudul Walden karya Henry David Thoreau.

Dalam buku tersebut, Thoreau membagikan pengalamannya menjalani gaya hidup sedeharna di alam. Namun, dalam kesimpulannya, ia mengkritik kecenderungan masyarakat yang lebih suka dengan pemikiran sederhana dibanding konsep berpikir mendalam.

Mungkinkah kondisi ini berbahaya dan apa dampaknya terhadap rutinitas?

Dilansir dari Oxford Univesity Press, konsumsi konten-konten berkualitas rendah yang ditemukan di internet menimbulkan dampak negatif terhadap individu ataupun masyarakat sekitar.

Potensi dampak negatif itu merujuk pada masalah kesehatan mental anak-anak dan remaja. Brain rot mengintai anak-anak muda. Simak dampaknya berikut ini.

Apa Saja Dampak Brain Rot terhadap Kegiatan Harian?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kecanduan terhadap video pendek yang tidak bermutu berbanding lurus dengan perilaku menunda-nunda pekerjaan. 

Alasannya jelas, video pendek memberikan hiburan secara cepat dan biasanya menjebak pengguna ke dalam siklus konsumsi yang tidak terputus atau ketagihan. Akibatnya, waktu pengerjaan tugas terbaikan dan membuang waktu luang yang ada.

Dalam penelitian juga dijelaskan, konten video berdurasi pendek berpotensi melemahkan kemampuan fokus seseorang dalam jangka panjang. Seseorang yang kecanduan video pendek akan mengalami penurunan daya ingat dan kesulitan mengambil keputusan.

Penelitian yang lain bahkan mengungkapkan masyarakat yang menonton video pendek lebih dari empat jam sehari memiliki tingkat kepedulian/rasa empati yang lebih rendah dibanding kelompok orang yang menonton video regular kurang dari tiga jam sehari.

Kemampuan analisis seseorang pun diduga dapat berkurang akibat paparan video pendek yang berlebihan. Biasanya, seseorang mengolah informasi secara cepat dan memiliki potensi untuk menerima informasi mentah-mentah tanpa memverifikasi. Dampaknya, individu berpeluang memperoleh lebih-lebih menyebarkan berita palsu.

Imbas dari brain rot tidak berhenti sampai di situ, fenomena ini dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, seperti mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi, perasaan cemas yang berlebih, perubahan suasana hati ekstrem, dan kurangnya interaksi sosial.

Cara Mengatasi Brain Rot

Jika merasa sering tidak fokus dan kecanduan dengan media sosial hingga melupakan pekerjaan utama, mungkin ini menjadi pertanda seseorang mengalami brain rot.

Untungnya, hal-hal negatif yang berkaitan dengan kecanduan media sosial dapat diatasi dengan beberapa upaya dan berikut langkah-langkahnya:

1. Batasi waktu penggunaan media sosial

Di era digital, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun, sadarilah bahwa media sosial berdampak buruk jika digunakan secara berlebihan.

Hasil-hasil penelitian soal dampak buruk dari konsumsi konten pendek tidak berkualitas harus menjadi perhatian bersama.

Kesadaran dan kebijakan masyarakat diperlukan dalam pembatasan waktu penggunaan media sosial. Dalam sehari, sebaiknya penggunaan media sosial tidak lebih dari 1 jam. 

Hal ini dapat dibantu dengan mengubah pengaturan pada ponsel untuk membatasi akses atau waktu bermain media sosial.

2. Pilih konten yang berkualitas

Pemilihan konten yang tepat dan bermutu justru akan menambah wawasan warganet dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Tentunya konten-konten bernilai tinggi akan bermanfaat bagi netizen.

3. Tingkatkan interaksi sosial di lingkungan sekitar

Alih-alih bermain media sosial selama berjam-jam, kamu bisa meluangkan waktu berbicara dengan teman atau keluarga secara langsung. Carilah topik-topik menarik yang sedang hangat di masyarakat untuk didiskusikan bersama orang lain.

4. Cari aktivitas atau hobi lain

Warganet juga bisa lho mencari aktivitas dan hobi baru untuk mengurangi penggunaan ponsel dalam sehari. Misalnya, olahraga, membaca buku, menonton film, atau kegiatan positif yang bisa meningikatkan keterampilan. Dengan begitu, tubuh akan disibukkan dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Setelah mengetahui pengertian dan dampak brain rot terhadap kehidupan, pastikan netizen bijak dalam menggunakan media sosial. 

Pilihlah konten-konten yang berkualitas tinggi dan jangan sampai aktivitas dan kesehatan mentalmu terganggu.

Komentar